Sejarah Perkembangan Volkanologi

A. Sejarah Perkembangan Volkanologi
     Sejarah perkembangan ilmu gunungapi berawal dari pengertian manusia terhadap gejala alam yang teramati sekalipun terbatas pada tingkatan yang sangat sederhana dan bersifat animistik (Alzwar dkk, 1988). Bangsa Poline beranggapan bahwa aktivitas gunungapi berada di bawah kekuasaan Dewa Pelee, sehingga gunungapinya disebut Mount Pelee. Sementara itu orang Indian di Oregon, Amerika Serikat mempunyai legenda yang mengisahkan adanya perang antara Dewa Api yang bermukin di Mount Mazama dengan Dewa Salju yang bertempat di Mount Shasta. Pertempuran kedua dewa itu menyebabkan hancurnya Mount Mazama dan membentuk apa yang sekarang dikenal dengan nama Crater Lake. Cerita senada juga ditemukan dalam legenda kuno bangsa Yunani dan Romawi, serta wilayah yang memiliki gunungapi, seperti Jepang, Selandia Baru, Hawaii, dan Indonesia.

Di Indonesia terdapat beberapa legenda yang berkaitan dengan gunungapi, seperti dongeng Dayang Sumbi yang dikaitkan dengan terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat; dongeng istana Raja Galuh Agung yang terletak di Gunung Galunggung Tasikmalaya, Jawa Barat; legenda danau toba sebagai awal terbentuknya Kawah Gunung Toba (Toba Supervolcano); serta dongeng Roro Anteng dan Joko Seger yang dihubungkan dengan Gunung Bromo dan Gunung Tengger.

Penalaran ilmiah tentang gunungapi dimulai oleh Empedocles (492 – 432 SM), berdasarkan pengamatannya dari dekat terhadap aktivitas Mount Etna di Italia. Dari pengamatannya selama beberapa tahun dia meyakini bahwa di dalam perut bumi terdapat larutan panas yang membentuk gunungapi. Setelah Empedocles muncul beberapa pengamat seperti Strabo (63 BC – 30), Seneca (2 BC – 65), Pliny (23), Giordano Bruno (1600), Martin Lister (1638 – 1711), Charles Lyell dan Scrope. Pada tahun 1827, Scrope merupakan ilmuwan yang meletakkan dasar pengertian volkanologi modern. Scrope berpendapat bahwa aktivitas gunungapi merupakan aktivitas gas yang terkandung dalam magma. Beberapa dekade kemudian Frank A. Perret mendukung pendapat Scrope, dengan menyatakan bahwa gas adalah agen aktif penggerak magma.

Sejak itu penelitian kegunungapian mengalami perkembangan pesat. Verbeek menjadi orang pertama yang meneliti letusan Krakatau (1883). Letusan-letusan besar gunungapi lainnya, seperti Letusan Gunung Merapi, Gunung Kelud telah ditulis kembali oleh Kusumadinata (1979). Di luar Indonesia, Stubel mengadakan penelitian kegunungapian di Ekuador dan Columbia. Para ahli gunungapi menjadi semakin tertarik mengadakan penelitian secara seksama setelah terjadi letusan Krakatau tahun 1883, letusan Mount Soufriere dan kehancuran tragis kota Saint Pierre di Kepulauan Antile oleh letusan Mount Pelee yang keduanya terjadi pada tahun 1902.

Perkembangan ilmu volkanologi pada abad 20 dirintis oleh Jaggar, seorang profesor geologi dari Massachusset Institute of Technology, dan Perret seorang insinyur listrik. Sejarah perkembangan ilmu gunungapi tidak terpisah dari sejarah aktivitas pengamatan gunungapi. Pada tahun 1911 di Hawaii didirikan Hawaiian Volcano Observatory untuk merekam dan menelaah aktivitas gunungapi di daerah tersebut secara terus menerus. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Dinas Penjagaan Gunungapi untuk mengamati aktivitas gunungapi di Indonesia (Kusumadinata, 1979).Berdasarkan pengamatan langsung aktivitas gunungapi aktif masa kini Van Bemmelen (1949) telah meletakkan dasar-dasar ilmu gunungapi modern untuk mempelajari batuan gunungapi tua atau fosil gunungapi.


Satu hal penting dalam tahapan sejarah penelitian kegunungapian adalah didirikannya International Center of Volcanology di Catania, Italia oleh pemerintah Italia dan Belgia, dibawah pimpinan ahli gunungapi kenamaan Rittmann. Sejak itu arus penelitian kegunungapian semakin berkembang antara lain di Jepang, Iceland, New Zealand, Perancis, negara-negara Amerika Latin, Filipina, Papua New Guinea, dan Benua Antartika. Untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitian terkini secara internasional, maka para ahli gunungapi yang tergabung di dalam organisasi asosiasi ahli gunungapi dunia(IAVCEI) secara aktif melakukan pertemuan ilmiah di berbagai tempat dan negara. Hasil-hasil penelitian dan pertemuan ilmiah tersebut kemudian diterbitkan di dalam Bulletin of Volcanology atau buku teks volkanologi dan majalah-majalah ilmiah bertaraf internasional lainnya yang menyangkut permasalahan kegunungapian.

0 Response to "Sejarah Perkembangan Volkanologi "

Post a Comment